Muslim dalam ‘100 Top Global Thinkers’


KAIRO–Majalah Foreign Policy merilis daftar orang-orang yang dianggap sebagai pemikir top dunia dan sejumlah nama dari tokoh Muslim tercantum dalam daftar yang bertajuk 100 Top Global Thinkers tersebut. Mereka merupakan profesor, cendekiawan, politikus, bankir, dan jurnalis.

Zahra Rahnavard, istri dari pemimpin oposisi Iran, Mir Hossein Mousavi, berada pada posisi tiga setelah Kepala Federal Reserve AS, Ben Bernanke, yang dianggap berhasil menyelamatkan ekonomi AS dari kolaps dan Presiden Barack Obama, yang dinilai mampu mempertahankan peran utama AS di dunia.

Majalah tersebut menilai, Rahnavard, merupakan otak yang berada di belakang Revolusi Hijau dan kampanye politik yang dilakukan suaminya.Ia juga ikut berkampanye untuk sang suami dalam pemilu presiden di Iran pada Juni lalu. Pemilu ini kemudian menyisakan sengketa politik.

Rahnavard merupakan mantan penasihat Mohamed Khatami, yang menjabat presiden Iran dari 1997 hingga 2005 lalu. ”Rahnavard merupakan pengkaji Alquran dan menulis sejumlah buku seni dan politik,” demikian tulis  Foreign Policy, yang dikutip Islamonline, kemarin.

Sementara itu, Imam al-Sharif, pemimpin spiritual kelompok Jihad di Mesir, berada pada posisi ke-10. Ia dianggap berhasil menyusun sebuah rasionalisasi jihad di Mesir dan dunia. Sebuah revisi komprehensif terhadap dukungannya sebelumnya terhadap perang agama.

Pada posisi ke-16, terdapat pakar ekonomi Muslim dari AS, Mohamed El-Erian. Ia adalah salah satu pimpinan dari sebuah perusahaan investasi, Pacific Investment Management Company (Pimco), yang mengelola aset yang jumlahnya sekitar 842 miliar dolar AS.

Empat peringkat berikutnya, ada mantan menteri keuangan Afghanistan, Ashraf Ghani. Ia dimasukkan ke dalam daftar tersebut karena dianggap memiliki kemauan dan upaya yang keras, dalam mencerabut akar korupsi di Afghanistan.

Sedangkan Anwar Ibrahim, mantan deputi perdana menteri Malaysia, ditempatkan pada posisi ke-32. Ia masuk daftar karena perjuangannya dalam mengembuskan demokratisasi di negerinya, Malaysia.

Ada pula pemenang Nobel, Muhammad Yunus. Ia berada di peringkat ke-46 dari daftar yang dianggap berperan besar dalam memerangi kemiskinan. ”Yunus mungkin hanya satu-satunya bankir yang mampu membawa lembaganya keluar dari krisis keuangan,” katanya.

Cendekiawan Muslim dari Swiss, Tariq Ramadan, berada pada posisi ke-49. Menurut  Foreign Policy, Ramadan telah mendedikasikan dirinya untuk membuktikan bahwa Islam tak bertentangan dengan kehidupan di Barat, termasuk dengan demokrasi.

Ramadan, jelas majalah berbasis di AS itu, ingin mengartikulasikan sebuah Islam yang sesuai dengan demokrasi liberal di Eropa. Ia selama ini dikenal sebagai pemikir Muslim yang gencar mengecam terorisme dan ekstremisme.

Selain itu, Ramadan juga merupakan seorang profesor studi Islam di Oxford University. Ia telah menulis 20 buku dan 700 artikel tentang Islam. Ia pernah disebut majalah  Time sebagai salah satu dari 100 inovator pada abad ke-21 ini.

”Sepanjang hidupnya, cucu dari pendiri Ikhwanul Muslimin, Hassan al-Banna itu, telah menjalani semacam kontradiksi. Ia seorang intelektual Muslim yang sangat mendukung demokrasi, namun ia pun yakin hukum agama merupakan sesuatu yang universal,” demikian ungkap  Foreign Policy. fer/taq (republika)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s