Maryam Brack (Aktivis Muslimah HT Australia): Ingin Hijrah ke Indonesia


https://i0.wp.com/www.mediaumat.com/images/stories/2010/februari/mu27_maryam%20brack.jpg

Yang terbayang di pikiran Brack sebelumnya, Islam hanya mengatur masalah akidah dan ibadah. Ternyata Islam adalah way of life, dan mengatur segala hal.

Bagi aktivis Muslimah di Australia, Maryam Brack cukup dikenal. Ia adalah satu dari aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Australia yang sering terlibat diskusi maupun debat terkait dengan kewajiban kaum Muslim untuk selalu terikat dengan hukum syara dalam menyelesaikan berbagai masalah yang menimpa kaum Muslim.

Melihat aktivitasnya itu, orang yang baru mengenalnya tidak akan menyangka kalau ia adalah mualaf yang lahir dari keluarga non Muslim. Usianya kini 35 tahun dengan didampingi seorang suami dan enam orang anak.

Sebelumnya ia beragama Katolik. Brack sangat beruntung, orang tuanya tidak mempermasalahkan keputusannya untuk masuk Islam. Bahkan saudara laki-lakinya ada yang masuk Islam pula. Padahal ibunya, ketika masih gadis, pada usia 16-27 tahun pernah menjadi seorang biarawati.

Negeri Istimewa

Saat itu, tepatnya pada 1992, ia mengunjungi Indonesia selama tiga bulan. Dari Lombok hingga Sumatera, ia melihat pemandangan yang indah dan penduduknya yang ramah, mereka shalat berjamaah dan melakukan berbagai aktivitas keagamaan lainnya.

“Indonesia, negeri istimewa yang kemudian saya cintai, “ ujarnya. Ucapannya itu dibuktikan dengan mempelajari Islam dan bahkan langsung masuk Islam ketika dilamar oleh lelaki Muslim Indonesia.

“Beberapa bulan setelah menikah barulah saya benar-benar memahami dan menerima secara totalitas akidah Islam,” aku sarjana lulusan University of Western Sydney yang masuk Islam dan menikah pada usia 18 tahun itu.

Ramadhan pertamanya pun dialami di Indonesia. Itulah pengalaman pertamanya saat menjadi mualaf. “Oleh karena itu Indonesia memainkan peranan penting bagi saya, sehingga saya bisa menjadi Muslimah,” ujarnya.

Setelah kembali ke Australia, kemudian ia mendapat kesempatan untuk menyelami Islam lebih dalam lagi dengan bimbingan seorang sister (Muslimah) asal Melayu. Mereka terus berdiskusi mengenai Islam dan sister itu menjelaskan kepada Brack seputar akidah dan ibadah. Sedangkan saudara laki-lakinya memperdalam Islam di Indonesia.

“Alhamdulillah, ia adalah guru Islam saya yang sangat membantu dalam pengembangan pemahaman, akidah dan identitas Islam saya selama tahap awal keislaman saya menjadi Muslimah. Dan untuk itu semua saya selalu sangat  berterima kasih kepadanya,” kenang Brack.

Mengenal HT

Brack memahami Islam hanya mengatur masalah akidah dan ibadah, tidak terbayang dibenaknya bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang konfrehensip mengatur segala aspek kehidupan manusia termasuk politik dan ekonomi. Sampai pada akhirnya ia mengenal Hizbut Tahrir dari saudara lelakinya itu.

“Saya mengenal HT dari keluarga saya sendiri. Setelah ia dan istrinya mengaji kepada Ustadz Abdur Rahman Al Baghdadi di Bogor pada 1995 atau 1996. Mereka kembali ke Sydney, Australia membagi pemahamannya kepada keluarga dan teman-temannya,” ujar Brack.

“Pemahaman saya terhadap Islam sebelum mengenal HT adalah sebatas pemahaman spiritual. Kesadaran saya terkait ideologi dan politik Islam tidak sekuat setelah saya mengenal HT”.

Brack menyatakan bahwa  sebetulnya itu bukan pengalaman pertamanya saja mengenal HT tetapi pengalaman pertama semua sister HT generasi pertama di Australia. Dan pada umumnya brother dan sister di Australia mengenal HT dari brother dan sister asal Indonesia.

Ia tertarik kepada HT karena solusi yang ditawarkan itu kukuh, jernih, dan menyeluruh diambil khas dari sudut pandang Islam. Pemikiran yang ideologis yang HT adopsi dan emban membuatnya  menjadi mampu melihat Islam dalam cara yang tidak pernah ia ketahui dan pahami sebelumnya.

“Hal itu benar-benar memberi inspirasi kepada saya, dari yang tadinya hanya memahami Islam sebatas spiritualitas belaka sekarang memahami Islam lebih dari itu karena ternyata Islam pun mengatur masalah politik, yang mengatur urusan manusia di berbagai aspek kehidupannya secara sistematik,” bebernya.

Sehingga dengan senang hati ia berkomitmen bergabung dengan HT untuk berjuang agar diterapkannya kembali syariah Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah di negeri-negeri kaum Muslim dengan aktivitas politik tanpa kekerasan.

Studi Banding

Dakwah di Australia bergerak maju dengan berbagai tahapan yang berbeda. Dan ia turut dalam berbagai tahapan tersebut. Pada tahapan awal, dakwah di Sydney bagi Muslimah HT sangat alot dan sangat membutuhkan banyak kesabaran.

Karena memang hanya ada beberapa orang saja Muslimah yang mengemban ide ini pada saat itu. Komunitas Muslim di Sydney memang kecil, dibangun oleh generasi pertama atau kedua imigran dari berbagai keluarga imigran yang datang dari berbagai penjuru dunia  namun yang paling dominan adalah imigran dari Turki dan Libanon.

Agar dakwah ini dapat terorganisir dan berkembang dengan baik maka mereka membutuhkan tambahan dukungan, bantuan, dan bimbingan. Maka saat itu ia terbang ke Indonesia dengan ditemani suami dan dua anaknya saya untuk mencari bantuan tersebut.

Dan Alhamdulillah apa yang dicarinya ia dapatkan. Pelajaran dan pengalaman berorganisasi Muslimah HT Indonesia ia adaptasikan di Sydney. “Kami berkonsentrasi untuk mengembangkan dakwah ini kepada komunitas Indonesia atau kepada orang-orang yang berbahasa Inggris.”

Waktu terus berlalu, kemudian lahirlah generasi kedua dari Muslim Australia yang menjalankan dakwah ini. Generasi kedua ini begitu kuat pula memegang ide-ide yang diserukan oleh HT. Alhamdulillah, sampai saat ini Brack dan generasi awal lainnya  dapat menyaksikan para Muslimah HT yang benar-benar lahir dari generasi kedua Muslim Australia.

Ia dan sister lainnya selalu berusaha mengondisikan agar Muslim Australia siap menjadi bagian dari warga Khilafah kelak. Namun ia memandang peluang tegaknya Khilafah itu untuk saat ini bukan di Australia.

Brack melihat, sekarang peluang itu sangat terbuka lebar di Indonesia. “Kaum Muslim di Barat dan di Dunia Islam melihat kepada Indonesia sebagai negeri yang sangat besar potensi dan kesempatannya untuk meraih tujuan tersebut,” tandasnya.

Ia pun mengaku sangat kagum melihat perjuangan yang dilakukan oleh HTI dan Muslimah HTI yang secara terbuka di tengah-tengah masyarakat menentang sekulerisme, liberalisme, dan kapitalisme.

Ia pun optimis, Insya Allah, perang pemikirian tersebut akan terus membesar siang dan malam hingga runtuh dan dicampakkannya  ideologi kapitalisme sebagaimana dialami oleh ideologi komunisme.

“Saya sangat berharap pada saatnya nanti ketika saya harus hijrah ke Indonesia, hijrah sebagai warga negara Khilafah Islamiyah. Insya Allah,” pungkasnya. Aamiin. (mediaumat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s