Guru Muslim Belgia Menangkan Kasus Jilbab


https://i0.wp.com/www.suaramedia.com/images/stories/2berita/1_3_islam/belgium_musliims_protest.jpg

CHARLEROI, BELGIA – Seorang guru matematika Muslim di sebuah sekolah negeri di Belgia memenangkan pertarungan hukumnya untuk mengenakan jilbab di dalam kelas pada hari Kamis (11/03) ketika pengadilan banding menolak keputusan pengadilan rendah.

Pada bulan September lalu, pihak sekolah melarang guru itu mengenakan jilbab saat sedang mengajar, meskipun ia telah melakukannya selama dua tahun lebih.

Upaya awalnya untuk menantang larangan tersebut gagal ketika sebuah pengadilan di kota industrial berbahasa Perancis, Charleroi, memihak sekolah, menyebutkan dekrit tentang netralitas dalam sistem sekolah franchophone nasional.

Namun pengadilan banding di Mons menolak keputusan itu, atas dasar bahwa sekolah itu didanai oleh pemerintah kota Charleroi, dan bukan sistem nasional, dan karena itu dekrit tersebut tidak dapat diberlakukan.

“Pengadilan ingat bahwa aplikasi yang tepat diperlukan untuk sebuah penghinaan terhadap prinsip kebebasan berekspresi, sesuatu yang belum dilakukan oleh kota Charleroi,” ujar pengacara sang guru, Jean-Claude Derzelle.

“Dalam keputusannya, pengadilan mengijinkan pemakaian simbol-simbol relijius oleh para guru – baik itu jilbab, kippa, atau salib – selama mereka tidak berusaha memaksakan sudut pandangnya,” ujar Derzelle.

Sementara itu, sekolah-sekolah umum berbahasa Belanda di Belgia akan melarang dikenakannya jilbab di dalam kelas, menyusul tuntutan dari banyak negara- negara Eropa.

“Keputusan ini mempromosikan kesetaraan dan mencegah pembentukan kelompok atau segregasi berdasarkan simbol-simbol kehidupan filsafat eksternal,” ujar sekolah itu pada hari Jumat (11/03).

Larangan tersebut akan diberlakukan terhadap 700 sekolah di wilayah Flanders, dan beberapa di Brussels.

Pihak sekolah berpendapat bahwa larangan itu diterapkan untuk menjamin perlakuan yang setara terhadap semua siswa di dalam lingkungan sekolah.

“Akan ada masalah jika terdapat tekanan terhadap salah satu kelompok karena kami ingin hidup bersama dalam resiprositas dan itu sangat penting bagi kami,” ujar Karin Heremans, kepala sebuah sekolah berbahasa Belanda.

“Semua orang harus merasa nyaman di dalam sekolah, sehingga sebuah minoritas sosial menjadi mayoritas di sini. Itu merupakan masalah.”

Kebanyakan sekolah di Flanders adalah sekolah Katolik dan dikelola oleh pemerintah kota.

Sekolah-sekolah di Flanders yang dibiayai oleh komunitas-komunitas Belgia lainnya tidak terikat dengan larangan tersebut.

Larangan itu datang sebelum sebuah pengadilan memutuskan  tentang langkah dua sekolah berbahasa Belanda di kota Antwerp yang melarang jilbab Muslim.

Minggu lalu, dua sekolah melarang dikenakannya jilbab di awal tahun ajaran baru, berdalih bahwa gadis-gadis Muslim itu dipaksa untuk mengenakan jilbab.

Larangan tersebut memicu protes dari para pelajar yang marah dan salah seorang dari mereka mengajukan keluhan ke pengadilan untuk melawannya.

Pada hari Selasa (9/3), pengadilan memutuskan bahwa kedua sekolah tidak dapat mengambil keputusan semacam itu sendiri.

Pengadilan akan memutuskan pengajuan banding dari pelajar itu pada hari Selasa mendatang.

Belgia memiliki minoritas Muslim sebesar 450,000 jiwa, separuh dari mereka berasal dari Maroko, sementara 120,000 lainnya keturunan Turki. (rin/ie/io/suaramedia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s