Polisi Dan MUI Tolak Konferensi Gay-Lesbian Se-Asia


https://i0.wp.com/www.suaramedia.com/images/stories/2berita/1_3_nasional/polda_dt.jpg

https://i2.wp.com/latin_america_caribbean.ilga.org/design/ilga/images/logo.lac.gifhttps://i1.wp.com/latin_america_caribbean.ilga.org/var/ilga/storage/images/media_library/struct/lac_eng/sidebar/felgtb/52832-1-eng-GB/felgtb_large.gif

SURABAYA – Polwiltabes Surabaya akhirnya tidak mengeluarkan rekomendasi keamanan penyelenggaraan Konferensi Regional International lesbian, Gay, Bisexual, Transgender dan Intersex Association (ILGA) di Surabaya, 26-28 Maret mendatang.

AKBP Sri Setyo Rahayu, Kabag Bina Mitra Polwiltabes Surabaya mengatakan konferensi yang diikuti gay-lesbian se-Asia ini rawan menimbulkan gangguan Kamtibmas. Selain itu, kata dia, sudah banyak kelompok masyarakat yang sudah tegas menolaknya.

Ia mengakui panitia konferensi ini, sudah menyampaikan izin penyelenggaraan ke Mabes Polri. Oleh Mabes Polri, permohonan itu dikonfirmasikan ke Polda Jatim dan Polwiltabes Surabaya.

“Jawaban kami, Polwiltabes Surabaya, keberatan dengan diselenggarakannya acara ini. Keberatan kami itu juga sudah disampaikan ke panitia dan mereka bisa menerimanya,” papar dia.

Sebagaimana diketahui, rencananya, konferensi kaum kelainan seks ini akan menyelenggarakan konferensi tingkat internasional ke-4 yang akan dihadiri 100 peserta yang berasal dari 20 negara Asia. Usai konferensi, mereka juga direncanakan akan menggelar pawai budaya di Surabaya untuk menunjukkan keragamaan budaya seluruh Asia.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar di Indonesia ini bakal diikuti sedikitnya 200 peserta dari belasan negara di Asia dan didatangi peserta tamu dari benua lain.

Pertemuan yang berlabel The International Lesbian and Gay Association (ILGA) Asia Regional Conference ini merupakan kongres yang keempat kalinya. Tiga kali pertemuan sebelumnya digelar di Chiang Mai, Thailand (2008), Cebu, Filipina (2005), dan Mumbai, India (2002).

Ketua Panitia ILGA Asia Regional Conference, Poedjiati Tan mengakui, perhelatan ini akan berlangsung di Hotel Mirama Grand Marcure Surabaya. Konferensi akan mempertemukan sejumlah masalah sekaligus mencari jalan keluar terkait persoalan sosial golongan minoritas ini. Di antaranya dengan menggelar seminar tentang kesehatan, pendidikan, masalah diskriminasi, dan masalah-masalah lainnya.

“Ini murni pertemuan ilmiah untuk berbagi pengalaman antarorganisasi,”  kata Tan kepada kantor berita Surya.

Perhatian khusus juga akan diberikan kepada perwakilan organisasi perempuan dan transgender.

Konferensi ini, kata dia, tidak eksklusif diikuti oleh organisasi gay dan lesbian saja. Namun terbuka untuk semua orang yang mendukung hak-hak semua gender dan kelompok-kelompok yang terpinggirkan secara seksual.

Acara ini diduga akan berlangsung meriah. Menurut buku panduan acara, selain seminar juga ada acara-acara hiburan untuk penutupan yaitu karnaval jalanan.

Kata Tan, sampai saat ini sudah ada 150 peserta yang mengirimkan konfirmasi kehadiran mereka. Di antaranya delegasi dari Singapura, Thailand, China, India, dan Malaysia. Beberapa peserta masih terkendala perolehan visa, menurut Tan, di antaranya peserta dari Bangladesh.

Namun berdasarkan pengalaman konferensi serupa dua tahun lalu, kongres akan dihadiri peserta yang mewakili 16 negara termasuk negara-negara peninjau. Saat ini, di Asia saja ada sekitar 100 organisasi lesbian, gay, biseksual, dan transeksual, termasuk di dalamnya organisasi perempuan.

Tan menjelaskan, persoalan kesehatan reproduksi diperkirakan bakal menjadi bahasan utama dalam pertemuan ini. Sejumlah ahli kesehatan akan didatangkan untuk mencari formula dalam menekan penyebaran penyakit menular seksual.

Herry da Costa, Ketua GAYa Nusantara –organisasi gay tertua di Indonesia– mengatakan bahwa organisasinya didapuk sebagai panitia lokal karena posisi Indonesia sebagai tuan rumah. “Ini pengalaman yang sama sekali baru menjadi tuan rumah untuk acara akbar seperti ini,” kata Herry.

Dia mengatakan, segala bentuk perizinan sudah dikantongi panitia. Mulai izin dari kepolisian di tingkat kota hingga ke Mabes Polri.

Doktor Antropologi yang juga pendiri GAYa Nusantara, Dede Oetomo, kepada kantor berita Surya mengatakan, bahwa Surabaya dipilih oleh ILGA diduga karena kota ini lebih terbuka dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Selain itu, tiga pengurus ILGA, satu di antaranya berasal dari Surabaya yaitu Poedjiati Tan.

“Saya pikir kegiatan ini juga bisa diikuti oleh kaum heteroseksual agar tidak ada lagi kesalahpahaman, “ ujar mantan dosen FISIP Unair ini.

Sebab, kata dia, selama ini golongan gay kerap dibenci sekaligus dirindukan di negeri ini. Di sisi lain sebenarnya keberadaannya diakui dalam sejumlah profesi.

Poedjiati Tan, salah seorang panitia acara mengklaim, dipilihnya kota Surabaya karena penerimaan gay dan lesbi di Surabaya cukup bagus.

“Penerimaan masyarakat Surabaya terhadap gay dan lesbian cukup bagus. Jadi tidak ada persiapan yang berlebihan, “ujarnya seperti diberitakan dari  Koran Jawa Pos.

HIMBAUAN MUI

Klaim kelompok gay ditampik tokoh ulama Jawa Timur. Ketua MUI Jawa Timur, KH. Abdussomad Bukhori. Ketua MUI Jawa Timur, KH. Abdussomad Bukhori menolak keras Konferensi Lesbian dan Gay se-Asia yang akan diadakan di Surabaya pada 26-28 Maret mendatang.

“MUI Jatim menolak keras konferensi gay di Surabaya. Acara tersebut sangat tidak cocok,” katanya.

Dia menambahkan, gay dan lesbi adalah sesuatu yang dilarang agama. Jadi, sangat tidak layak jika diadakan di tengah masyarakat yang beragama. Menurutnya, Indonesia, khususnya Surabaya sudah banyak ditimpa masalah. Karena itu, dia mengatakan, jangan sampai ditambah lagi dengan masalah baru.

Karena itu, atas nama MUI Jatim, dia menghimbau agar acara maksiat tersebut tidak sampai diadakan.

“Jangan sampai menyulut api amarah umat Islam,” terangnya. Lebih lanjut, menurutnya, hal tersebut sangat sensitif melukai umat Islam. Dan, jika umat Islam sudah marah, jangan salahkan mereka.

Dia mengatakan, dengan adanya acara tersebut sudah pasti ada ekses negatif yang muncul.

“Paling tidak, warga Surabaya seolah menerima kaum gay dan lesbi,” jelasnya. Sebab, acara tersebut diberitakan ke seluruh dunia. Dan, tidak mustahil diketahui khalayak luas di seluruh dunia.

Dia menambahkan, sekarang saja, umat Islam di Surabaya sangat prihatin dengan keberadaan lokalisasi Dolly yang konon terbesar se Asia. Karena itu, dia meminta agar jangan sampai ditambah lagi dengan label gay dan lesbi.

Hingga kini, untuk menolak acara tersebut, menurutnya MUI telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian pusat.

“Kami harap, polisi tidak memberi izin acara tersebut,” pintanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, acara tersebut tidak lain skenario global yang sengaja ingin mengobok-obok umat Islam di Indonesia. Terlebih, Indonesia populasinya mayoritas muslim. Skenario tersebut menurutnya masuk dengan dalih demokrasi dan HAM. Padahal, menurutnya demokrasi dan HAM ada batasnya. (fn/h3d/suaramedia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s