Guru Pakistan Rilis Al-Qur’an Berbahasa Te Reo


 

WELLINGTON – Kitab Suci umat Muslim Al-Qur’an kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Te Reo, bahasa tradisional masyarakat Maori Komunitas Muslim telah mengerjakan proyek penerjemanahan tersebut selama lebih dari 20 tahun dan telah selesai lebih dari setengah Al-Qur’an. Sebanyak 16 juz telah dipublikasikan dalam sebuah buku yang membandingkan antara bahasa asli Arab dan bahasa Maori dan telah diluncurkan lebih awal pada hari Sabtu, 17 April 2010, sebuah kantor berita pasifik melaporkan.

Dr Mohammad Shorab, kepala komunitas Muslim New zealand. Mengatakan dia meyakini bahwa membuat terjemahan Al-Qur’an adalah sebuah bentuk penghormatan terhadap motto komunitas Muslim tersebut: Love for all, hatred for none (Cinta untuk siapapun, kebencian bukan untuk siapapun). “Islam adalah sebuah agama yang universal,” kata Dr Shorab. Dr shorab mengatakan bahwa Kitab Suci Al-Qur’an merupakan salah satu yang terpenting bagi umat Muslim di seluruh dunia, dan menerjemahkan ke dalam bahasa Te Reo tidak hanya menunjukkan penghormatan terhadap komunitas masyarakat Maori, namun juga sebagai salah satu cara berbagi dengan New Zealand mengenai sesuatu yang sangat istimewa dan berarti bagi Muslim. Penghormatan atas terjemahan tersebut sebagian besar ditujukan kepada Shakil Monir, seorang guru asal Pakistan dengan cinta terhadap agama dan pengabdian kepada Al-Qur’an. Sementara mengajar di sebuah sekolah di Nigeria pada tahun 1993 silam, dia mempelajari mengenai Maori dengan sebuah kamus terjemahan Inggris – Maori, Injil berbahasa Maori, serta gramatikal Maori. Dengan tambahan beberapa tahun dedikasinya kepada pendidikan beserta arahan dari kepala komunitas Muslim, Monir memulai usaha mulianya dalam menerjemahkan bahasa Al-Qur’an ke bahasa Te Reo. Dia mengatakan dengan bantuan lima hingga enam ahli bahasa Maori, dia sangat yakin bahwa hasil terjemahan tersebut akan sangat akurat dan mendekati bahasa aslinya. Sejarah masuknya Islam di New Zealand bermula dari datangnya para pencari emas asal China yang beragama Muslim pada tahun 1870-an. Sejumlah kecil Muslim pendatang dari India dan Eropa Timur pada tahun 1900 hingga 1960-an juga menjadi batu lompatan masuknya Islam ke negara asal Burung Kiwi tersebut. Skala besar kedatangan Muslim India pada tahun 1970 diikuti oleh para pendatang asal Afrika dan Timur Tengah. Islamic center pertama berdiri pada tahun 1959, diikuti beberapa Masjid serta dua sekolah Islam. Pada April 1979, Mazhar Krasniqi mendatangi tiga wilayah dimana Muslim berkembang paling pesat; Cantenbury, Wellington, serta Auckland, dimana dia akhirnya mendirikan Persekutuan Persatuan Islam New Zealand (Federation of Islamic Associations of New Zealand – FIANZ). Pada tahun 2002, Krasniqi menerima penghargaan Queens Service Medal atas usahanya tersebut. Tahun 1981, Syeikh Khalid Hafiz dinobatkan sebagai imam asal Wellington, memegang jabatan tersebut hingga kematiannya pada tahun 1999, dan bekerja sebagai imam di Persatuan Muslim Antar-Bangsa New Zealand. Menurut sensus penduduk yang digelar pada tahun 2006 lalu, sebanyak 36.072 warga yang diidentifikasi sebagai Muslim, termasuk banyak warga kelahiran New Zealand dengan beragam latar belakang etnis. Angka ini menunjukkan peningkatan yang sangat pesat, dengan sekitar 52.6% dalam lima tahun. (al/3n/wp/suaramedia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s