Rindu Masjid Kaum Muslimin di Athena


Athena adalah satu-satunya ibukota negara di Eropa dimana tidak ada satu pun bangunan masjid, meskipun di Atena terdapat sekitar 700.000 komunitas Muslim. Karena tidak ada masjid, masyarakat Muslim di kota itu memanfaatkan garasi, toko atau rumah-rumah mereka agar bisa sekedar salat berjamaah.

Ketua Asosiasi Muslim Yunani, Naim Elghandour mengatakan, perjuangan komunitas Muslim untuk membangun sebuah masjid di Athena adalah perjuangan panjang dan pahit. Meski demikian, mereka tidak pernah menyerah dan berharap perjuangan itu akan berakhir membahagiakan. Mereka berharap dalam dua tahun ke depan, impian untuk bisa salat berjamaah di masjid yang sesungguhnya bisa terwujud.

“Saat Erdogan (Perdana Menteri Turki Recep Tayyeb Erdogan) berkunjung ke Athena, bertepatan dengan hari Jumat, tapi tidak ada tempat ibadah bagi kaum Muslimin di sini,” kata Elghandour, orang Mesir yang sudah menjadi warga negara Yunani lewat proses naturalisasi.

Menurutnya, sebelum kunjungan Erdogan, pemerintah Yunani menyatakan akan segera membangun sebuah masjid, tapi pernyataan itu langsung memicu perdebatan seputar apakah masjid yang akan dibangun itu boleh dilengkapi dengan menara atau tidak.

“Bagi mereka yang mengusulkan agar masjid tidak dilengkapi gereja, kami menanyakan apakah mereka juga akan menginstruksikan agar gereja tidak bermenara. Tapi kami yakin, kami bisa mengatasi perdebatan ini,” kata Elghandour.

Ia menambahkan bahwa masjid yang akan dibangun, struktur bangunannya akan diharmonisasikan dengan gaya arsitektur di kota Athena. “Kami akan menjelaskan pada mereka bahwa bangunan masjid tidak akan mengganggu wajah kota Athena secara keseluruhan, kami akan mencoba meyakinkan hal ini pada publik. Masyarakat Athena, meski lambat, sudah mulai terbiasa dengan agama Islam dan mereka juga akan terbiasa dengan masjid,” tukas Elghandour optimis.

Ia mengungkapkan, harapan untuk memiliki masjid mulai memperlihatkan titik terang ketika pada tahun 2006 pemerintah Yunani mengeluarkan mandat untuk pembangunan masjid dengan menggunakan dana masyarakat.

“Wacana pembangunan masjid di Athena pertamakali diagendakan pada akhir tahun 1030-an, tapi wacana itu terlupakan akibat pecahnya Perang Dunia II. Kemudian pada tahun 1980-an, duta besar negara-negara Arab di Athena mendesak agar pemerintah Yunani membangun masjid untuk komunitas Muslim dan baru pada tahun 2000 diajukan draft undang-undang untuk pembangunan masjid dan sebuah pusat kebudayaan Islam,” papar Elghandour menceritakan sejarah panjang rencana perjuangan untuk membangun masjid di Athena. Tapi semua upaya itu tidak pernah berhasil.

Menjadi Muslim di Athena, Dulu dan Sekarang

Keberadaan komunitas Muslim di Athena berhubungan dengan sejarah panjang antara Yunani dan Kekhaligahan Islam Ustamaniyah yang berpusat di Turki. Elghandour sendiri sudah menetap di Athena selama 40 tahun. Ia masih ingat bagaimana pandangan aneh orang-orang Athena melihatnya salat. “Tapi sekarang, saya bisa menggelar sajadah saya di mana saja, lalu salat dan tidak tak seorang pun yang menganggap itu aneh. Publik Athena sedikit demi sedikit sudah mulai memahami Islam,” ujarnya.

Isteri Elghandour, Anna Stamou juga mengungakapkan bahwa menjadi seorang muslimah di Athena sekarang, tidak membuatnya merasa terasing lagi. Masyarakat Athena sudah terbiasa melihat perempuan mengenakan jilbab.

“Mereka biasanya menatap dengan pandangan ganjil, sampai sekarang mereka sering menanyakan mengapa saya mengenakan jilbab. Tapi jilbab bukan lagi pemandangan aneh di mata mereka,” ungkap Stamou.

Meski demikian, Stamou mengakui bahwa komunitas Muslim masih sering diperlakukan diskriminatif, misalnya di sektor lapangan pekerjaan, terutama muslimah yang berjilbab.

Pasangan Elghandour memiliki dua putra, Ismail dan Iman. Mereka menyatakan tidak khawatir dengan masa depan anak-anak mereka, yang hidup sebagai Muslim di Yunani. Mereka berharap generasi muda Muslim di Yunani tidak akan mengalami kesulitan seperti yang dialami generasi pendahulu mereka. Dan meski saat ini Yunani sedang dilanda krisis ekonomi, masjid tetap akan dibangun dengan dana swadaya masyarakat.

Komunitas Muslim di Athena juga tak kenal lelah untuk mendakwahkan Islam ke kalangan masyarakat Athena. Misalnya, dengan cara menggelar salat Jumat berjamaah di lokasi yang akan menjadi tempat dibangunnya masjid yang terletak di distrik Votanikos. Luas kompleks masjid sekitar 840 meter per segi dan bisa menampung 500 jamaah, jauh lebih kecil dari jumlah komunitas Muslim di Athena yang mencapai 700.000 orang.

Tapi Elghandour sambil tersenyum mengatakan, “Yang penting satu masjid dibangun dulu dan membiasakan warga Athena dengan bangunan masjid. Saya yakin, setelah itu akan dibangun masjid kedua, ketiga dan seterusnya …” ujarnya yakin.

Selain masjid, komunitas Muslim ini juga membutuhkan lahan untuk pemakaman. Sebuah gereja pernah mengalokasikan lahan untuk pemakaman warga Muslim, tapi lokasi tanahnya yang curam tidak sesuai untuk dijadikan pemakaman.

“Sekarang, komunitas Muslim sedang menyiapkan lokasi baru untuk pemakaman. Gereja memberikan sebidang lahan di kota Shisto, ” kata Elghandour.

Selama ini, masih menurut Elghandour, jika ada warga Muslim yang meninggal, jenazahnya dipulangkan ke negara asalnya atau dimakaman di pemakaman-pemakaman umum di Thrace. (ln/isc/Zaman)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s