Jutaan Janda di Dunia Hidup Miskin


https://i2.wp.com/media.vivanews.com/thumbs2/2009/04/09/68920_pemilu_legislatif_2009__nenek_dan_petani_300_225.jpg

Sedikitnya 245 juta perempuan di dunia kini menyandang status janda, dan lebih dari 115 juta di antaranya hidup miskin. Demikian studi terbaru yang disusun istri mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair,  Cherie Blair, yang dirilis Selasa, 22 Juni 2010.

Kondisi paling menyedihkan dihadapi oleh dua juta janda di Afganistan dan sedikitnya 740 ribu janda di Irak, yang kehilangan suami karena perang dan konflik berkepanjangan.

Kondisi buruk juga harus ditanggung oleh para janda dan anak-anak mereka yang diusir dari rumah keluarga di sub-Sahara Afrika, para janda tua yang merawat cucu yatim piatu di tengah krisis HIV/AIDS, dan janda berusia 7-17 tahun di negara-negara berkembang.

“Di seluruh dunia, janda menderita akibat perlakuan diskriminatif dan kekerasan,” kata Blair. “Dalam banyak kasus, mereka terdesak ke masyarakat marjinal, terjebak dalam kemiskinan, dan rentan menerima tindak kekerasan dan eksploitasi.”

Menurut Blair, mereka dijauhkan dari aset dan properti suami serta diusir dari rumah keluarga. Karena tidak memiliki uang, janda-janda malang itu tidak bisa membiayai anak-anak mereka.

Menurut laporan tersebut, negara dengan jumlah janda terbanyak pada tahun 2010 adalah China dengan 43 juta janda, disusul India dengan 42,4 juta janda, Amerika Serikat dengan 13,6 juta janda, Indonesia 9,4 juta janda, Jepang 7,4 juta janda, Rusia 7,1 juta janda, Brazil dengan 5,6 juta janda, Jerman dengan 5,1 juta janda, serta Bangladesh dan Vietnam, masing-masing sekitar 4,7 juta janda.

Blair berada di New York untuk meluncurkan laporan berjudul “Invisible Forgotten Sufferers: The Plight of Widows around the World,” yang dirancang oleh Loomba Foundation. Yayasan tersebut bekerja di sejumlah negara untuk membantu kaum janda dan mendidik anak-anak mereka.

“Hanya ada sedikit sumber daya di dunia ini yang tersedia untuk membantu kaum janda memperoleh kondisi yang lebih aman dan nyaman, serta meningkatkan kualitas dan mengejar keadilan bagi mereka sendiri,” kata salah seorang pendiri yayasan, Veena Loomba.

Loomba mengatakan, itulah alasan mengapa yayasannya berkampanye untuk memasukkan isu kaum janda dalam agenda Perserikatan Bangsa Bangsa, dan mengupayakan agar 23 Juni ditetapkan sebagai “Hari Janda Internasional” untuk meningkatkan kesadaran akan krisis yang dialami kaum janda. (VIVAnes)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s