Peter Sanders, Berdakwah Lewat Karya Fotografi


Keprihatinannya melihat Muslim dan Islam kerap diidentikan dengan ekstrimis dan teroris, membuat Peter Sanders yang berprofesi sebagai fotografer “banting setir”, tidak lagi memotret dunia musik rock ‘n’ roll tapi memotret “dunia Islam”.

Bintang rock ‘n’ roll papan atas seperti Bob Dylan, Jimmy Hendrix dan Rolling Stones pernah menjadi obyek fotonya. Tapi sekarang, obyek foto Sanders adalah keindahan dunia Islam dan warisan budaya kaum Muslimin. Lewat foto-foto hasil bidikannya, ia ingin menghadirkan wajah Islam yang sebenarnya ke tengah masyarakat dunia yang masih mengindetikkan Islam dan Muslim dengan teroris dan ektrimis, bahwa Islam itu indah.

Sanders yang juga seorang mualaf, mengawali karir fotografinya sejak tahun 1960-an di London, Inggris. Ia lalu melakukan perjalanan spiritual, pertama ke negara India lalu bekunjung ke negeri-negeri muslim hingga ia menjadi salah satu orang Barat pertama yang memotret ritual haji di tanah suci. Pengalamannya saat mengunjungi negeri-negeri muslim, begitu membekas di hatinya bahkan ketika ia sudah kembali ke negaranya dan akhirnya Sanders memutuskan untuk menjadi seorang muslim.

Sekarang, Sanders memfokuskan foto-fotonya pada kehidupan tradisional Islam. “Tapi, di zaman sekarang, agak sulit menemukan kehidupan tradisional Islam. Islam sudah dipolitisir,” kata Sanders yang ingin menampilkan sisi spiritual Islam dalam setiap karya fotografinya.

“Fotografi selalu mengikuti apa yang menjadi minat saya dan minat saya yang utama di era ’60-an adalah panggung musik di London. Ketika saya memutuskan untuk mengemasi koper-koper saya dan mencari cara hidup yang lebih spiritual, kamera saya juga ikut menapaki jalan itu, menemani seluruh perjalanan saya,” papar Sanders menceritakan awal mula ia mengenal Islam.

“Selama perjalanan itu, saya membaca sedikit tentang Islam. Kemudian saya kembali ke Inggris … saat itu awal tahun 1970-an dimana banyak orang menjadi korban era 60-an–mereka overdosis mengkonsumsi narkoba dan sejenisnya, tapi banyak juga orang yang menemukan arah yang jauh berbeda,” tutur Sanders.

Ia melanjutkan, “Saya hanya merasa bahwa ke arah yang berbeda itulah saya harus pergi. Ini merupakan sebuah lompatan iman, tapi Anda haru ingat, ketika itu tidak ada yang melatarbelakanginya seperti yang kita lihat sekarang, saat itu tidak ada isu soal ektrimisme Islam.”

Sanders mengungkapkan, yang pertama kali membuatnya tertarik pada Islam adalah kesederhaan dalam agama Islam. “Ketenangan, dasar-dasar keimanan dan kasih sayang yang diajarkan Islam juga membuat saya sangat tertarik pada agama ini,” tukasnya.

Ketika berkunjung ke India, Sanders mengenang sebuah pengalaman tak terlupakan. “Suatu pagi, saya berada di stasiun kereta, suasananya sudah sangat ramai. Tiba-tiba saya melihat seorang perempuan tua, menggelar tikar kecil lalu salat di tengah keramaian stasiun kereta. Saya tidak pernah melihat hal yang seperti itu, saat itu saya belum tahu apa yang dilakukan perempuan tadi,” ungkap Sanders.

Sebagai seorang fotografer, ia melihat apa yang dilakukan perempuan itu sebagai sebuah “ketenangan” di antara keramaian lalu lalang orang, keramaian yang membuat saya pusing melihatnya.

Setelah menjadi seorang muslim, banyak hal tak teduga terjadi yang menyangkutpautkan Islam dengan ekstrimis dan teroris. Misalnya serangan 11 September 2001 di AS dan serangan tanggal 7 Juli 2005 di London. “Saya tidak bisa mencegah itu terjadi, tak akan pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi, tapi saya berpikir bagaimana serangan-serangan itu dihubungkan dengan sesuatu yang begitu menarik? Sesuatu yang juga berusaha memahami semua kejadian itu,” ujar Sanders.

Ditanya apakah Sanders akan menghadirkan sisi-sisi Islam secara khusus dalam karya-karya fotonya, ia menjawab, “Kita tinggal di berbagai kota berbeda dan dikelilingi oleh pemandangan alam yang berbeda pula. Tapi kita harus ingat untuk menjadi orang yang tenang, kalem, dan jujur pada tetangga-tetangga kita–semua nilai moral ini yang nampaknya hampir lenyap. Kaum Muslimin di zaman sekarang harus mempertahankan nilai-nilai moral itu, meski mereka ada di dunia yang sangat berbeda,” tandas Sanders. (ln/cnn/al-ahram)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s