Khilafah, Totalitarianisme dan Teokrasi


Dukungan luas untuk mendirikan kembali negara khilafah kini semakin terlihat jelas. Berbagai survei ataupun jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar menginginkan syariah dan khilafah. Terbukti, pada Agustus 2007 Hizbut Tahrir Indonesia menyelenggarakan sebuah Konferensi Khilafah di Indonesia. Sebanyak lebih dari 100.000 umat Islam memadati stadion GBK (Gelora Bung Karno), sementara jutaan umat lainnya diseluruh dunia ikut menyuarakan dukungan mereka.

Semakin luasnya dukungan terhadap syariah dan khilafah telah mengejutkan dan membuat barat berpikir keras untuk menghalau agar dukungan tersebut mereda. Dan hasilnya, semua aspek kehidupan Islam kerap kali mendapat tudingan hebat, mulai dari akidah hingga sistem pemerintahan Islam (khilafah).

Adalah George W.Bush orang yang pertama kali menyebut secara gamblang apa khilafah itu dan menyatakan bahwa Amerika Serikat “terlibat dalam sebuah perang ideologi besar, memerangi ekstrimis Islam di seluruh dunia.” Dia melanjutkan ekstrimis adalah mereka “yang berhasrat memunculkan kembali visi kegelapan di timur tengah dengan mendirikan kembali Khilafah yang keras dan radikal yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia”.[1] Dalam kesempatan lain, ia berkata “Khilafah merupakan sebuah imperium Islam totaliter, mencakup seluruh negeri muslim sekarang dan masa lalu, membentang dari Eropa ke Afrika Utara, dari Timur Tengah ke Asia Tenggara”.[2]

Propaganda yang sering kita dengar juga adalah Khilafah adalah totalitarianisme, teokrasi, nazi, terorisme. Propaganda semacam ini persis seperti apa yang ditujukan kepada dakwah Rasul di Makkah. Di awal dakwah, kaum Quraisy mengatakan “ini dia, anak Abdul Muthalib yang meyakini bahwa ucapannya berasal dari langit”.[3] Hingga dakwah sampai pada tahap yang menggentarkan, mereka mencari-cari apa yang bisa membuat Muhammad tidak dipercaya oleh masyarakat, akhirnya ditemukan propaganda bahwa Muhammad adalah tukang sihir yang dapat merusak keluarga.

Totalitarianisme merupakan isitilah spesifik untuk sebuah pemerintahan dimana kekuasaan terpusat dan absolut dalam sebuah aspek kehidupan. Individu adalah subordinat negara dan kultural maupun oposisi ditekan keras. [4] Padahal Totalitarianisme secara eksplisit banyak terjadi hampir di seluruh negara di dunia, terutama barat dan Amerika yang selama ini kita anggap adalah negara paling demokratis. Monopoli politik, pasar dan SDA, penyikapan kepada pihak-pihak yang kritis terhadap pemerintahan adalah dengan spionase, intimidasi, tekanan politik, rekayasa pembunuhan, konspirasi merebut kekuasaan adalah tindakan-tindakan dalam negara totalitarian. Di Uzbekiztan, presiden Karimov pernah merebus hidup-hidup penentang kebijakannya yang represif. Di Indonesia sendiri dan kasus terbaru saat penulisan ini, sengketa lahan SDA emas di daerah Bima NTB diselesaikan dengan kekerasan antara polisi dan masyarakat. Di beberapa tempat tertentu di dunia, sering diadakan konferensi ekonomi dunia yang membahas masalah ketimpangan ekonomi karena dampak dari sistem ekonomi kapitalis dan monopoli ekonominya.

Dalam negara dengan asas Nazi atau komunisme, selalu ada partai masa tunggal, paling tidak partai masa tunggal yang resmi. Di bawah pimpinan Saddam Husein, partai Ba’ath adalah partai resmi negara dan menjadi satu-satunya partai karena partai lain tidak diizinkan berdiri.[5] Soeharto memimpin negara dengan partai masa yang dijadikan partai resmi negara (Golkar), dan melakukan penekanan politik terhadap para oposannya.

Teokrasi (negara agama) juga sering dipadankan dengan khilafah. Pada hakikatnya, keduanya sama-sama menggunakan agama sebagai asas negara. Namun, teokrasi yang dimiliki dan diterapkan oleh barat adalah tidak berdasar dan manipulasi. Akar teokrasi adalah tulisan-tulisan para pemikir eropa mengenai Tuhan dan kekuasaan negara yang salah satunya berbunyi “Raja bertahta karena kehendak Tuhan dan kekuasaan raja adalah dari Tuhan”. Sehingga institusi gereja harus turut serta bahkan menjadi sumber dalam pemerintahan dan pembuatan UU. Perundang-undangan yang mereka buat menurut mereka adalah dari Tuhan. Hal ini menimbulkan dominasi dan pengaruh gereja yang besar terhadap pemerintahan dan masyarakat. Perebutan pengaruh kekuasaan antara kerajaan dan gereja berlangsung sengit; selama seribu lima ratus tahun setelah kepindahan Constantine, sejarah Eropa ditandai oleh pertarungan terus-menerus antara gereja dan negara.[6] (Fareed Zakaria, 2003: 30).

Khilafah, sebuah sistem pemerintahan Islam Ideologis (negara berdasar syariah Islam), sama ideologisnya seperti negara ideologis kapitalis Amerika dan Inggris Raya. Ideologis berarti, sistem pemerintahannya diturunkan dari pandangan hidupnya. Bagi khilafah, pandangan hidupnya adalah Islam yang akhirnya menurunkan hukum syari’at untuk mengatur urusan kehidupan. Bagi negara semacam Amerika dan Inggris, pandangan hidupnya adalah sekuler yang menurunkan sistem perundang-undangan oleh manusia dan sistem ekonomi kapitalis.[7]  Khilafah merupakan sistem pemerintahan Islam yang sebagaimana Rasul contohkan dengan mendeklarasikan negara Islam pertama di Madinah. Dengan khilafah, Rasul saw mulai membangun interaksi masyarakat atas dasar akidah Islam dan mengokohkan persatuannya. Dengan khilafah, Rasul memulai dakwah antar negara, hingga seperti yang kita dapati sekarang bahwa kita beragama Islam.  Dengan khilafah, Rasul meretas tumbuhnya peradaban baru yang tidak pernah ada sebelumnya.

Khilafah jelas berbeda antara negara dengan ideologi kapitalis,  bukan negara totalitarian yang mirip dengan sosialis dimana kekuasaan politik dan ekonomi terpusat pada satu titik, bukan pula negara teokrasi yang melegalisasi suara pribadi atau golongan adalah suara Tuhan untuk dita’ati rakyatnya. Jabatan khalifah (pemimpin negara khilafah) adalah semata-mata institusi pelaksana dan formalisator syariah di bumi yang diturunkan dari akidah Islam. Tegaknya syariah Islam bukanlah suatu utopia politik bahwa di dalam negara khilafah tidak ada kejahatan sama sekali. Justru aktivitas amar ma’ruf nahi munkar jama’ah dan individu adalah salah satu pilar khilafah.

Khalifah sendiri tidak memiliki otoritas dimana mengkritiknya adalah suatu hal yang tabu dan terlarang jika ia tidak melaksanakan hukum syari’ah Islam dan mengabaikan hak rakyat. Hal ini karena opini publik adalah kebenaran dan keadilan yang bersandar pada syari’ah Islam; mindset yang tertanam kuat dalam benak tiap individu (terlepas dari baik atau tidak) adalah syariah Islam.

Kewarganegaraan khilafah tidaklah harus beragama Islam, bahkan keberadaan orang kafir (ahlu dzimmah) beserta tempat peribadatannya bahkan harus dilindungi dalam khilafah. Kehormatan, harta, darah mereka adalah sama dengan kehormatan, darah dan kaum muslim. Orang kafir memiliki hak beribadah, nikah, makan dan berpakaian sesuai dengan agama mereka masing-masing. Hal ini tercatat dalah fakta sejarah bahwa selama 1300 tahun lebih, di bawah naungan khilafah Islam terdapat beragam agama, suku, etnis, ras yang berasal dari berbagai daerah.

Bagi non muslim, khilafah adalah alternatif dan solusi tuntas untuk ketimpangan ekonomi, penindasan dan segala ketidakadilan dengan dasar SARA yang selama ini terjadi. Bagi seorang muslim, khilafah adalah janji dan pertolongan Allah; kewajiban sebagai metode terlaksananya syariah secara sempurna. Sehingga ia non muslim ataukah seorang muslim islam dengan sistem khilafah adalah rahmatan lil alamin

[1] President Bush Adresses the 89th Annual National Convention the American Legion’, August 28 2007, http://www.whitehouse.gov/news/releases/2007/0820070828-2.html

[2] ‘Global War on Terror’, speech at Capital Hilton Hotel, September 5 2006, http://www.whitehouse.gov/newsreleases/2006/09/20060905-4.html

[3] Daulah Khilafah, hal 10.

[4] The American Heritage Dictionary of The English Language, ‘Dictionary definition of totalitarian’, Fourth Edition.

[5] Akuntabilitas Negara Khilafah, hal 14

[6] Sekularisasi Politik :  pengalaman Amerika dan dunia Islam, hal 84

[7] Akuntabilitas Negara Khilafah, hal 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s